Thursday, May 25, 2017

Jikalau Francesco Totti batal pensiun musim ini

Francesco Totti Batal Pensiun
Berbahaya bagi AS Roma jikalau Francesco Totti batal pensiun musim ini, dan malah bermain di klub lain--apalagi klub lain itu masih klub Serie A.

Menurut sudut pandangku: bagi orang-orang yang mencintai AS Roma di Indonesia, AS Roma tidak ada apa-apanya jika dibanding seorang Francesco Totti.

Aku membaca Football Italia. Dalam berita AS Roma berjudul Totti confirms Roma exit. Tayang 25 Mei 2017. Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam Totti confirms Roma exit.

Pertama. Francesco Totti sudah mengkonfirmasi bahwa pertandingan hari Minggu melawan Genoa di pekan terakhir Serie A akan menjadi yang terakhir bagi AS Roma.

Kedua. Francesco Totti--yang saat ini sudah berumur 40 tahun--bagai enggan mengkonfirmasi apakah ia akan pensiun di akhir musim ini, sebagaimana menurut sudut pandang manajemen AS Roma yang telah beberapa hari sebelumnya sudah mengumumkan bahwa akhir musim ini adalah musim terakhir Francesco Totti bersama AS Roma.

Ketiga. Saat ini. Melalui laman Facebook miliknya, Francesco Totti menulis: Roma vs Genoa, Minggu, 28 Mei 2017, adalah saat terakhirku masih mengenakkan jersey AS Roma. Tidak bisa diungkapkan dengan beberapa kata. Segala warna telah diwakili dan mewakiliku bersama AS Roma. Aku hanya merasa bahwa cintaku pada sepakbola belum berakhir. Sepakbola merupakan gairah dan hasratku. Begitu dalam hingga aku tak mampu membayangkan hidup tanpa sepakbola untuk selamanya. Mulai senin, aku siap untuk melangkah pergi, aku siap untuk menghadapi tantangan baru.

Keempat. Ada laporan memberitahukan bahwa Francesco Totti telah mendapatkan tawaran dari klub Serie A yang tak disebutkan namanya, akan tetapi tak memberikan rincian lebih lanjut dalam laporan yang diberitakan tersebut.

Kelima. Berbahaya AS Roma--nyambung dengan opiniku di atas pada kalimat pembuka konten ini.


"Jikalau telah datang waktu yang dinanti. Kupasti bahagiakan dirimu seorang. Kuharap dikau sabar menunggu..." Naif.


Ini sumber aslinya dari Football Italia: Totti confirms Roma exit.

Sumber foto: The Express Tribune

Wednesday, May 24, 2017

Cerita tentang Francesco Totti dalam Pamit

Cerita tentang Francesco Totti
Francesco Totti. Ia adalah Kapten kami. Lahir di kota Roma tepatnya di daerah San Giovanni, dan di usia amat belia telah menjadi fans Giallorossi.

Berbahagialah anak berusia 12 tahun bernama Francesco Totti--tentu saja--ketika Roma Primavera memanggilnya untuk masuk ke Akademi Muda AS Roma. Saking girangnya, setelah mengangguk setuju, Totti menganggap Trigoria--markas latihan AS Roma--sebagai rumah keduanya, ia terlihat begitu bersemangat dalam latihan. Dari situlah kemudian bakat besarnya terasah--pada Maret 1993 membuat debut di kancah Serie A pada umurnya yang masih berusia 16 tahun, sebagai awal karir gemilangnya di AS Roma--lantas bikin gempar dunia dengan keahliannya bermain bola melalui balutan jersey AS Roma--dan juga Italia. Di AS Roma, jangan salah, No Totti No Party.

Telah banyak rekor dicatatkan oleh Francesco Totti di AS Roma, yang kemudian melekatkan dirinya sebagai bagian dari sejarah AS Roma yang paling berjaya. Francesco Totti adalah Pangeran Roma. "Totti adalah Roma, Roma adalah Totti."

Ada begitu banyak cerita indah tentang Francesco Totti di AS Roma, yang kemudian melekat erat di hati orang-orang yang mencintai AS Roma. Orang-orang yang mencintai Roma telah dibikin jatuh hati oleh Francesco Totti: berkat torehan gol, keahlian bermain bola yang berkelas, dan kharisma Gladiator Roma. Karir paling gemilang Francesco Totti berbalut jersey Giallorossi adalah membawa AS Roma meraih gelar Scudetto 2000/2001. (Gelar AS Roma bersama Totti lainnya: Supercup pada 2001 dan 2007, dua Coppa Italia pada 2006 dan 2008.)

Kini telah 25 tahun lamanya Francesco Totti membela AS Roma sebagai pemain sepakbola. Dalam sudut pandang direktur olahraga Roma baru Monchi dan presiden James Pallotta, bahwa musim ini--2016/2017--merupakan musim terakhir Pangeran Roma yang saat ini sudah berumur 40 tahun, akan tetapi--paling tidak sampai aku menuliskan konten ini--belum ada pengumuman resmi dari Francesco Totti sendiri mengenai itu.

Bilamana Francesco Totti pensiun sebagai pemain sepakbola pada musim ini maka hanyalah AS Roma klub satu-satunya yang dibela oleh Francesco Totti. Sejauh ini Francesco Totti telah memberikan segalanya bagi AS Roma, dengan penuh rasa cinta. Loyalitas Francesco Totti pada AS Roma adalah nyata, bisa saja di satu masa Francesco Totti pergi ke klub yang--secara logika--bisa membawa rentetan prestasi yang lebih baik bagi seorang Totti dalam kiprahnya sebagai pesepakbola, namun Totti menolak 'harta' itu dan lebih memilih tetap di Roma atas nama 'cinta'. Maka tidak aneh, terutama orang-orang yang mencintai Roma, amat mengagumi sosok Francesco Totti. Totti selamanya akan selalu di hati orang-orang yang mencintai Roma, kapten kami adalah segalanya.

Tidak heran jika kemudian aku--sebagai salah satu orang yang masih terbilang baru mencintai AS Roma--merasa begitu terharu kepada saudara-saudaraku--sesama orang yang mencintai AS Roma--yang telah lama menjadi romanisti dan menjadikan Francesco Totti sebagai pemain idola. Ketika mengetahui kabar tentang bahwa musim ini adalah musim terakhir Francesco Totti menjadi pemain sepakbola. Ketika mendengar kabar bahwa Francesco Totti akan pensiun dari main bola. Saudara-saudaraku itu, sebagian besar dari mereka pada bersedih, dan masih berharap bahwa pengumuman itu--Totti pensiun--hanyalah--ibaratnya--guyonan manajemen AS Roma semata.

Jujur kuakui saudaraku, ketika aku mencintai AS Roma, semakin hari semakin aku merasa di dalam dadaku terdapat ruh Serigala Roma. Dan Francesco Totti serta merta menjadi sosok yang kupuja juga--dengan segala kebesarannya di Roma. Tentulah aku pun menjadi merasa sedih bilamana Pangeran Roma Totti pensiun--akan tetapi mungkin tidak sesedih saudara-saudaraku yang telah lama mencintai AS Roma dan menjadikan Totti sebagai pemain idola.

Maka dari itu. Kelihatannya di sini aku bisa memposisikan diri sebagai sosok yang tegar--walaupun sesungguhnya aku pun sedih juga--apabila sekiranya musim ini adalah musim terakhir Francesco Totti--Dari Football Italia Tayang 12 Mei 2017: Ini pasti akan menjadi akhir dari sebuah era bilamana Francesco Totti benar-benar pensiun, sebab Totti telah membuat penampilan total 782 yang luar biasa untuk AS Roma, mencetak 306 gol dalam karir 25 tahun dengan mengenakan jersey Giallorossi. (Pertandingan terakhir musim ini melawan Genoa disinyalir menjadi laga terakhir Francesco Totti, dan secara resmi tiket di Stadio Olimpico untuk pertandingan itu telah diumumkan terjual habis menurut laman resmi AS Roma)

Percayalah kepadaku, saudaraku. Bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, begitupun tentang kisah seorang pesepakbola, akan ada akhir ia untuk menjadi pensiun dari main bola, namun janganlah salah bahwa teristimewa Totti yakinlah aku bahwa Totti akan abadi di AS Roma sebagai simbol kebanggaan kita semua--baik bagi klub AS Roma maupun orang-orang yang mencintai AS Roma. Karena Francesco Totti, sebagai seorang pesepakbola, lahir dan besar hanyalah di AS Roma. King of Rome!


"Sudah coba berbagai cara agar kita tetap bersama. Yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut kuhilang. Perdebatan apapun menuju kata pisah. Jangan paksakan genggamanmu," Tulus.


Sumber tulisan: AS Roma, Football Italia
Sumber foto: Calcio Fanpage

Tuesday, May 23, 2017

Roma mengincar lagi Defrel kurasakan Bang Ojek Sayang

Aku membaca Football Italia. Dalam berita AS Roma berjudul Roma back in for Defrel. Tayang 22 Mei 2017. Memang telah kutahu pada bursa transfer Januari lalu Defrel merupakan salah satu incaran AS Roma, namun ketika itu Defrel tidak berhasil menjadi Gladiator Roma. Di bursa transfer musim panas ini kelihatannya AS Roma kembali berusaha mendatangkan Gregoire Defrel dari Sassuolo.

Baca juga ini saudaraku: Bila Roma Sukses Mendapatkan Defrel.

Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam Roma back in for Defrel.

Pertama. Diberitakan bahwa AS Roma kembali mengincar Gregoire Defrel penyerang Sassuolo pada bursa transfer musim panas ini, setelah sempat mengalami kegagalan mendapatkan Defrel di bursa transfer januari kemarin.

Kedua. Sassuolo membanderol harga transfer Defrel sebesar 25 juta euro, sebuah harga transfer yang mesti dipenuhi AS Roma bila ingin menjadikan Defrel sebagai Gladiator Roma.

Ketiga. Il Tempo memberitakan bahwa direktur olahraga Roma Monchi amat ingin membawa Defrel ke Roma, dan kelihatannya pada saat ini pihak Sassuolo bisa membiarkan Defrel pergi sebab bagai telah menemukan pengganti Defrel di Sassuolo yakni Pietro Iemmello. Pietro Iemmello--penyerang Sassuolo lainnya--telah mencatatkan 4 gol dalam 3 pertandingan terakhir, demikian menandakan bisa menggantikan peran Defrel di starting line up Sassuolo.

Keempat. AS Roma merencanakan Defrel sebagai pelapis Edin Dzeko, dan kelihatannya bisa dilakukan manuver untuk membawa Defrel dari Sassuolo melalui pinjaman dengan kewajiban untuk membeli pada tahun 2018.

Kelima. Gregoire Defrel adalah pemain berkebangsaan Perancis. Saat ini ia berumur 25 tahun--kelahiran 17 Juni 1991.

Demikianlah.

Karena aku sudah membahas tentang Gregoire Defrel di tulisan sebelumnya sehingga bayanganku tentang Defrel tidaklah samar. Ketika kudengar kabar AS Roma terbaru terkait Defrel itu, maka kurasakan bagai Zaskia Gotik sedang nunggu Bang Ojek.

Sebelum melanjutkan menulis konten ini, sengaja aku kembali melihat terlebih dahulu aksi Gregoire Defrel di salah satu video di youtube, untuk menghayati bagaimanakah seorang Defrel memainkan sepakbola di lapangan. Atau, ibaratnya aku sedang berakting menjadi direktur olahraga Monchi dalam rangka mengamati permainan Defrel.

Kulihat Defrel. Sebagai seorang penyerang. Ia memiliki postur tubuh yang terlihat gempal--bagai antitesa dari postur tubuh Edin Dzeko. Belakangan kutahu bahwa Gregoire Defrel memiliki tinggi badan 179 cm dan berat badan 77 kg. Postur gempal Defrel ditunjang pula dengan anugerah kecepatan. Sehingga secara fisik, bisa dibilang Defrel terlihat tangguh sekiranya dalam situasi--istilahnya--bak bik buk. Dan tetap terlihat kokoh saat sedang berlari.

Kulihat juga Defrel mempunyai tendangan ke gawang yang gagah, bahkan dari jarak jauh. Tentunya demikian penting dimiliki oleh seorang penyerang yang mempunyai tupoksi sebagai pencetak gol.

Dari posisi main di sektor penyerangan, Defrel termasuk multifungsi, bisa ditempatkan di posisi Edin Dzeko, bisa pula di posisi Mohamed Salah, dan juga bisa menjadi second striker--itu artinya Defrel juga bisa berduet dengan Dzeko, bukan hanya sebagai pelapis, bagaimana strateginya saja nanti diterapkan seperti apa oleh pelatih.

Kupikir. Sebagaimana diberitakan di atas, bahwa direktur olahraga Roma Monchi amat ingin membawa Defrel ke Roma, begitu pula denganku. Maka dari itu, dalam kasus ini, aku setuju jikalau Defrel diburu lagi untuk dijadikan sebagai Gladiator Roma di musim depan. Menyimak berita Roma back in for Defrel itu, terdapat poin yang bagai membuka pintu terbukanya Defrel menuju Roma, asalkan Roma sanggup membayar harga transfer Defrel sebesar 25 juta euro.


"Bang Ojek, Bang Ojek. Gak sabar nungguin Abang. Gak pake lama-lama ya Bang. Aku tunggu di depan Gang," Zaskia Gotik.


Sumber tulisan: Football Italia, Il Tempo
Sumber foto: Corriere dello Sport

Monday, May 22, 2017

Komentar Maradona Tentang Totti yang Terbaik

Komentar Maradona Tentang Totti yang Terbaik
Aku membaca AS Roma. Dalam berita AS Roma berjudul Maradona's incredible tribute to Totti: 'The best I ever saw'. Tayang 22 Mei 2017. Tahulah aku siapakah Maradona, yaitu Legenda Sepakbola Argentina yang kesohor--salah satunya--dengan Gol Tangan Tuhan. Akan tetapi, jujur saja permainan Diego Maradona kusimak hanya sebatas cerita saja, aku belum pernah menonton pertandingan-pertandingan sepakbola Maradona--ketika ia masih aktif menjadi pesepakbola--karena demikian kupikir bukanlah eraku--eraku nonton bola.

Kuketahui dari sana. Bahwa Diego Maradona dan Francesco Totti telah berteman lama, pertemanan mereka semakin erat sesudah bermain dalam pertandingan amal di Stadio Olimpico pada akhir 2016 lalu. Maradona menyanjung Totti bahwa Legenda Italia Francesco Totti sudah meninggalkan warisan besar di bawah jerseynya. Pun berkata. "Francesco Totti adalah 'king of Rome!' Totti adalah yang terbaik yang pernah aku lihat dalam hidupku."

Demikianlah komentar Diego Maradona tentang Francesco Totti.

Bila kuingat lagi jauh ke belakang--ketika aku masih menjadi penggemar Juventus dan pemain idolaku Alessandro Del Piero masih aktif bermain untuk Juventus. Tidaklah aku pungkiri, bahwa Francesco Totti merupakan pesepakbola nomor wahid di jagat ini--tapi sebandinglah ya dengan Alessandro Del Piero.

Dan aku masih ingat kejadian di mana Francesco Totti telah 'merebut' nomor 10 Del Piero di timnas Italia, nomor punggung Del Piero menjadi nomor 7. Tentu saja mengenai nomor punggung 10 di timnas Italia bukanlah nomor sembarangan, melainkan nomor ibaratnya seorang pangeran: yang paling jago dan juga ganteng--dalam sudut pandangku. Atau yang paling berpengaruh--walaupun tidak menjabat sebagai kapten. Seseorang yang bisa menjadi pembeda. Seseorang yang bisa dibilang sebagai maestro sepakbola Italia. Atas peristiwa tersebut, demikian menandakan bahwa Pangeran Roma Totti merupakan pesepakbola terbaik yang dimiliki oleh Italia.


"Mungkin hari ini aku masih bisa menjadi yang terbaik untukmu. Tapi hari nanti aku tak berjanji aku bisa menjadi seperti ini," Radja.


Sumber tulisan: AS Roma
Sumber foto: Pinterest

Selamat Scudetto della Juve, Musim Depan Roma, Andilau

Ketika pekan ke 37 Liga Italia Serie A 2016/2017 Juventus vs Crotone akan digelar, aku telah bersiap dalam aksi menggelar tikar--rencananya aku mau menonton petandingan itu secara streaming. Pertandingan itu bisa menjadi penentuan gelar Scudetto, jika Juventus berhasil menang maka Scudetto della Juve.

Berdasarkan itulah kemudian. Aku sebagai penggemar AS Roma. Berharap semoga Juventus tersungkur di kandang sendiri, kalah oleh Crotone. Bahkan sejam sebelum kick off dimulai aku sempat sampai mengumbar janji terlebih dahulu di akun fesbukku: percayalah kepadaku, saudaraku. jika juventus sampai kalah pada pertandingan ini maka kuberjanji akan bernyanyi andilau.

Sebetulnya malam itu performaku sedang tidak bagus: kurang tidur karena sedang kepikiran seseorang yang telah seminggu lebih tidak update-upadate status di fesbuk--aku lelaki jones yang sedang dalam situasi mengagumi perempuan cantik sekali belakangan ini. Tidur subuh hari tetapi bangun masih pagi. Dan kemudian terjaga menanti kehadiran bidadari hati di jagat ini--fesbuk. Tibalah kemudian malam hari. Waktu Indonesia Barat pertandingan Juventus vs Crotone kick off jam delapan malam.

Aku membayangkan diriku ini sebagai ibaratnya perwakilan dari AS Roma untuk memantau situasi yang terjadi secara langsung di Juventus Stadium. Padatlah kulihat isi stadion, dengan orang-orang yang mengibarkan bendera belang kuda zebra, mereka bagai optimis bahwa Juventus akan menasbihkan gelar scudetto pada pertandingan ini.

Jika Juventus Scudetto musim ini maka demikian adalah gelar scudetto enam kali berturut, dan demikian pun menjadikan Juventus menciptakan sejarah baru di kancah Liga Italia Serie A. Di mana, rekor sebelumnya, adalah scudetto lima kali berturut yang dicatatkan oleh: Juventus pada tahun 1931-1935, Torino pada tahun 1943-1949, dan Inter pada tahun 2006-2010--tapi pada tahun 2006 gelar scudetto yang didapat Inter adalah imbas dari skandal calciopoli yang melanda Juventus.

Kick off pun dimulai. Juventus vs Crotone. Aku sudah dibikin lemas nonton ketika pertandingan baru berjalan sekitar '13 menit, ketika Mario Mandzukic sukses menciptakan gol. Lesulah sudah diriku ini ketika Paulo Dybala menciptakan gol cantik lewat tendangan bebas indah pada menit '39. Dua kosong Juventus memimpin di babak pertama. Selanjutnya, aku jadi tidak bergairah menontonnya lagi. Aku putuskan untuk mendingan makan midog: mie campur telur dibikin persis spaghetti--serius.

Pertandingan aku cek kembali ketika babak kedua hampir selesei, dan skor, Juventus malah menambah gol, jadi tiga kosong. Hasil Akhir: Juventus 3 vs 0 Crotone. Aku pun langsung update status di fesbuk.

malam ini aku agak demam.

FT Juventus 3 vs 0 Crotone

JUVENTUS SCUDETTO.

#DiperparahDenganHatiMerasaTidakDianggapMelati
#SeriusKepalaKunangDanHatiGersang

Beberapa teman--teman sesama romanisti--di fesbuk memberi ibaratnya tepukan untuk aku agar tetap semangat, yang pada intinya, masih ada musim depan untuk Scudetto della Roma bisa tercipta--membacanya aku serasa mendapatkan pelukan kasih sayang dari sahabat yang baik hati. Musim ini biarlah, Selamat Scudetto della Juve.


"Andilau. Andilau. Andilau. Antara dilema dan galau. Cinta berantakan merusak pikiran. Kuharus bagaimana?" Siti Badriah.


Sumber foto: Panorama

Saturday, May 20, 2017

Semalam El Shaarawy bagai Senandung Cinta Siti Badriah

Kabar AS Roma kali ini aku tidak membaca apa-apa, melainkan hasil pengamatanku sendiri terhadap pertandingan di pekan ke 37 Liga Italia Serie A Chievo vs Roma. Hasil akhir: Chievo 3 vs 5 Roma. Di mana aku nonton secara streaming.

Kalau tidak salah dalam aku melihat, kulihat direktur olahraga Roma Monchi nonton pertandingan tersebut langsung di Stadio Marc'Antonio Bentegodi.

Kalau tidak salah dalam aku mengingat, seingatku Stephan El Shaarawy berpotensi untuk meninggalkan AS Roma di musim depan, dengan alasan karena ada beberapa klub lain yang berminat kepadanya, dan masih ragu apakah El Shaarawy akan aman tetap di Roma apakah tidak dalam pandangan manajemen AS Roma.

Pikirku saudaraku. Semalam--menurut Waktu Indonesia Barat--El Shaarawy bagai kudengar tembang Senandung Cinta Siti Badriah. Dari 5 gol yang dilesakkan Roma, El Shaarawy menyumbang 2 gol.

Aku curiga. Banyak yang akan memiliki kesan yang sama denganku berkenaan dengan Stephan El Shaarawy semalam ketika menyaksikan pertandingan itu. Tidak terkecuali direktur olahraga AS Roma Monchi.

"Aku pikir. Harga untuk Stephan haruslah sama dengan harga Mohamed. Jika ada yang mendekatiku untuk mendapatkan Stephan, maka aku akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang kukatakan untuk Mohamed: tidak akan ada negosiasi jika tawaran kurang dari 50 juta euro."

Bagusnya kau baca juga ini saudaraku: Liverpool menginginkan Mohamed Salah Hey Mas Bro 50 Juta Euro.


"Oh mesranya cinta kita bagaikan Ratu dan Raja. Saling berjanji setia susah senang kita sama-sama," Siti Badriah.


Sumber foto: AS Roma

Del Piero merasa Sedih atas situasi Spalletti-Totti, dan jika akhirnya Scudetto della Roma

Di hatiku kini, membicarakan Del Piero Totti selalu terasa menarik, bagai curhat kepada teman tentang seseorang yang kusayang. Maka berbahagialah aku ketika kumembuka laman Football Italia terdapat berita AS Roma yang berkenaan dengan Del Piero Totti judulnya ‘Sorry for Totti, Juve buy Italian’ Tayang 19 Mei 2017. Namun ternyata, berita AS Roma itu bukanlah berita yang menyenangkan melainkan berita yang bisa dibilang berupa kesedihan. Kurasakan Del Piero merasa Sedih atas situasi Spalletti-Totti.

Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam ‘Sorry for Totti, Juve buy Italian’

Pertama. Sorry for Totti berisikan perkataan Del Piero yang menyesalkan atas perlakukan AS Roma terhadap Francesco Totti. Juve buy Italian berisikan tentang saran Del Piero kepada Juventus untuk selalu memprioritaskan membeli pemain berkebangsaan Italia. Demikian dituturkan Del Piero kepada Radio Rai.

Kedua. Siapakah yang lebih baik di antara aku dengan Totti? Aku bagi menjadi dua kelompok, dan Totti ada di kelompok yang pertama.

Ketiga. Apa aku merasa sedih terhadap bagaimana Luciano Spalltetti memperlakukan Totti? Aku menyayangkan bila cerita ini mempunyai beberapa saat yang menyedihkan, namun demikianlah yang terjadi. Sebetulnya hanya Totti, Spalletti, dan AS Roma yang tahu, dan hanya merekalah yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Keempat. Apakah aku akan memainkan Totti melawan Genoa? Ya tentu saja.

Kelima. Untuk poin ini. Maafkan aku saudaraku. Aku tidak tertarik untuk menuliskannya. Ini berkenaan dengan ini: Juve buy Italian. Tidak ada urusannya dengan AS Roma.

Demikianlah.

Tersirat betapa dekatnya persahabatan antara Alessandro Del Piero dengan Francesco Totti. Perlulah dicontoh oleh kita semua, saudaraku.

Del Piero tersirat begitu menyanjung Totti, ia mengelompokkan Totti kepada golongan pesepakbola nomor satu di dunia. Terhadap situasi terkini, dalam arahan Luciano Spalletti pada musim ini, Del Piero menilai amat menyayangkan dengan situasi yang tengah terjadi, Francesco Totti jarang dimainkan oleh pelatih Luciano Spalletti, dan demikian merupakan cerita sedih sesaat dari indahnya romansa Totti dan AS Roma sejauh ini.

Menjadi menarik ketika kemudian kita perhatikan poin yang keempat. Apakah aku akan memainkan Totti melawan Genoa? Ya tentu saja. Disinyalir, jika musim ini adalah musim terakhir Totti, maka partai melawan Genoa merupakan partai terakhir Totti dikancah Serie A--Pertandingan melawan Genoa adalah pekan terakhir Serie A pada musim ini, akan terjadi di Stadio Olmpico.

Sampai aku menuliskan konten ini. Di kancah Serie A musim ini, masih tersisa dua pertandingan lagi: pekan ke 37 Chievo vs Roma, dan pekan ke 38 Roma vs Genoa. Sementara situasi Roma di klasemen berada diurutan kedua dengan raihan poin 81. Di posisi pertama ada Juventus dengan raihan poin 85, dan diurutan ketiga ada Napoli dengan raihan poin 80.

Sampai aku menuliskan konten ini. Mengacu klasemen Serie A. Pertarungan memperebutkan Scudetto masihlah tetap hidup.

Marilah kusodorkan dua pertandingan tersisa milik Juventus di kancah Serie A: pekan ke 37 Juventus vs Crotone, dan pekan ke 38 Bologna vs Juventus. Dan maaf, aku tidak akan membahas dulu tentang Napoli--yang masih berpotensi untuk menyalip posisi kedua Roma, dan bahkan masih mungkin meraih Scudetto.

Jika Juventus berhasil menang melawan Crotone maka yang terjadi adalah berpestalah Juventus. Juventus sukses kembali meraih Scudetto pada musim ini. Dan itu, amatlah mungkin terjadi, namun aku tidak suka membayangkannya, jujur saja.

Maka dari itu, saudaraku. Aku mau membayangkan seandainya di pekan ke 37 Juventus bagai ada angin dan ada hujan terjungkal kalah melawan Crotone di Juventus Stadium. Sementara AS Roma, di kandang Chievo, walaupun tanpa Francesco Totti dimainkan, namunlah Roma sukses membantai Chievo.

Silahkan saudaraku, baca ulang, untuk mencoba juga membayangkannya. Sudah kau baca ulang bayanganku itu. Maka perburuan gelar scudetto jadinya semakin seru sebab mesti ditasbihkan di pekan terakhir. Poin Roma jadi 84, poin Juventus tetap 85.

Terkutuklah Luciano Spalletti jika merasa jumawa bahwa telah berhasil memperseru perebutan gelar Scudetto dengan menyelipkan perasaan tidak membutuhkan Francesco Totti--mentang-mentang pekan ke 37 sukses membantai Chievo tanpa peran Totti di dalamnya, dan untunglah Juventus buntung di kandang sendiri melawan Crotone. Karena aku curiga, menurut yang sudah-sudah, Luciano Spalleti, selalu begitu--tidak memainkan Pangeran Roma Totti, andaipun dimainkan cuman beberapa menit saja.

Maka pertandingan terakhir melawan Genoa, sudah dapat diduga, dengan alasan taktik karena kemenangan adalah harga mati untuk menjaga kans menjaga impian meraih Scudetto, Francesco Totti kembali bagai dinafikan oleh pelatih Spalletti. Oke misalkan Roma berhasil menang. Akan tetapi, tetaplah tidak berpengaruh, jika akhirnya Juventus di kandang Bologna berhasil menang--Juventus yang Scudetto.

Kupikir, mendingan Totti--karena ini merupakan pertandingan terakhir Pangeran Roma--dimainkan dimenit awal melawan Genoa, dan Roma menang. Biarpun yang pada akhirnya Scudetto tetaplah Juventus. Akan tetapi, situasi tersebut telah menyelamatkan kebanggaan Pangeran Roma Totti yang sudah begitu mengabdi kepada AS Roma selama ini.

Maka dari itu. Biar khayalanku membuat hatiku bungah. Ketika aku membayangkan pada pekan ke 37 yang terjadi adalah begini: Chievo vs Roma yang menang adalah Roma, dan Juventus vs Crotone yang menang adalah Crotone. Tiba-tiba aku ingin menjadi presiden AS Roma, karena ini hanya khayalan, maka bisalah aku menjadi presiden AS Roma. Dan apa yang aku lakukan di hari pertama aku menjabat sebagai presiden AS Roma, adalah sesuatu yang anti mainstream, aku putuskan untuk memecat pelatih Luciano Spalletti dan menggantinya dengan Alessandro Del Piero.

Ramailah di berita-berita. Keputusanku itu. Mengundang pro dan kontra.

"Mister Presiden, kenapa anda sampai memecat Spalletti padahal kemarin--saat melawan Chievo--ia sukses membikin perebutan gelar Scudetto masih tetap hidup?" (Karena untunglah melawan Crotone di kandang sendiri Juventus buntung)

"Aku ingin AS Roma klub yang kucinta meraih gelar Scudetto. Dan bukan sembarang meraih gelar Scudetto, melainkan meraih gelar Scudetto secara Drama Korea."

Dengan segala pro dan kontra. Dengan bergulirnya waktu hari demi hari, saat yang ditunggu pun tibalah pekan ke 38. Pertandingan terakhir Francesco Totti. Pertandingan terakhir kancah Liga Italia Serie A. Penentuan siapakah gerangan yang akan berhasil meraih gelar Scudetto.

Beberapa hari sebelumnya, setelah resmi diangkat menjadi pelatih AS Roma, Alessandro Del Piero sudah bagai berjanji: Apakah aku akan memainkan Totti melawan Genoa? Ya tentu saja.

Lalu apakah yang terjadi. Persis khayalanku tentu saja. Roma vs Genoa, yang menang adalah Roma, dan yang muncul sebagai pahlawan adalah Pangeran Roma Totti karena ialah orang yang satu-satunya cetak gol melalui tendangan bebas indah dari luar kotak penalti--serta main full time. Sementara di tempat lain, Juventus, bagai dikutuk oleh orang-orang yang membencinya dengan mendoakan agar menuai kekalahan, pada akhirnya doa-doa mereka diijabah oleh Tuhan, Juventus tersungkur di kandang Bologna. Itu artinya, poin Roma jadi 87, dan poin Juventus tetap 85. Akhirnya Scudetto della Roma tercipta saudara-saudara.

"Francis, kamu berhasil," kata Del Piero.

"Alex, kamu pun berhasil Scudetto dengan satria," sambut Totti--sedikit menyindir.

Del Piero Totti berpelukan.

Tertawalah saudara-saudaraku. Karena tertawa lebih indah daripada bersedih.


"Mengapa kita harus bertemu jika akhirnya hanya seperti ini. Mengapa kita harus bertemu jika akhirnya kau tinggalkan kupergi," Flow.


Sumber tulisan: Football Italia
Sumber foto: These Football Times

Friday, May 19, 2017

Mungkinkah Francesco Totti bermain bola selain di Roma?

Francesco Totti Pensiun
Aku membaca Football Italia. Dalam berita AS Roma berjudul Maldini: ‘Totti to Miami? Maybe…’ Tayang 18 Mei 2017. Nama Pangeran Roma Totti disebut, mendadak aku tergugah bersemangat. Aku pun putuskan untuk menyeduh segelas kopi terlebih dahulu, sebagai rasa hormatku kepada beliau. Menyimaklah aku kemudian.

Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam Maldini: ‘Totti to Miami? Maybe…’

Pertama. Paolo Maldini berkata begini: Semua orang melakukan apa yang ia inginkan. Perkataan demikian meluncur saat ia ditanya apakah Pangeran Roma Totti bisa bergabung dengannya di Miami FC.

Kedua. AS Roma telah mengumumkan bahwa musim ini merupakan musim terakhir Francesco Totti sebagai pemain, akan tetapi Totti yang saat ini sudah berumur 40 tahun sedari awal bagai mengindikasikan bahwa ia masih ingin bermain. Atas situasi seperti itu, Paolo Maldini berkomentar: Bagiku itu adalah kesalahan komunikasi. Sering kali, pandangan tentang sepakbola mesti sesuai dengan keinginan klub. Mungkinkah Totti datang ke Miami? Semua orang melakukan apa yang dia inginkan.

Demikianlah.

Perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa legenda AC Milan Paolo Maldini, menurut data lanjutan yang kutemukan, dari tahun 2015 adalah co-owner klub Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL) Miami FC--berarti maksud kalimat bergabung bersama Maldini di Miami, dalam status Maldini sebagai co-owner Miami FC.

Marilah kuberitahukan terlebih dahulu sedikit tentangku sebenarnya kepadamu, saudaraku. Bahwa aku, sebetulnya dahulu adalah penggemar Juventus karena sosok pemain idolaku--il pinturicchio--Alessandro Del Piero. Demikian mengandung pesan kepadamu bahwasanya dahulu Er Pupone Francesco Totti bukanlah pemain idolaku--akan tetapi saat ini aku amat mencintai AS Roma dan Totti merupakan sosok yang kuhormati sebagai Pangeran Roma. Ini penting disampaikan agar engkau memahami opiniku nanti. (Atau ada bagusnya silahkan kau baca dulu ini: Del Piero Totti Sang Pangeran Cinta)

Begini. Dalam sudut pandangku sebagai sosok yang menghormati Totti. Aku setuju dengan pendapat Paolo Maldini bahwa pengumuman--yang bagai sepihak saja--dari Roma berkenaan dengan bahwasanya musim ini adalah musim terakhir Francesco Totti merupakan KESALAHAN KOMUNIKASI. Sebab Pangeran Roma Totti--sebagaimana disuratkan dalam berita di atas--bagai mengisyaratkan masih ada hasrat untuk bermain bola. Sehingga demikian bagai menyudutkan Francesco Totti untuk memang harus pensiun walaupun misal masih ingin bermain bola.

Namun, aku pun mestilah membayangkan juga menjadi AS Roma--biar adil. Tentulah AS Roma tahu bahwa tidak ada pemain yang sebesar Francesco Totti di AS Roma. Sehingga kebesaran AS Roma pastilah akan tergoyahkan kalau sampai kehilangan Francesco Totti, namun kegoyahan itu dapat diredam apabila dalam arti kehilangan Totti karena pensiun, sehingga itu artinya menjadikan Francesco Totti sebagai sosok yang membela hanyalah Roma satu-satunya. Dan kegoyahan itu bakalan terasa berdampak, apabila sampai kehilangan Francesco Totti karena pindah ke klub lain.

Paling tidak yang menjadi acuan pola pikirku adalah pengalamanku sendiri. Pengalamanku yang dulu pernah menggemari Juventus. Aku curiga, bukan aku saja satu-satunya yang kecewa ketika Alessandro Del Piero tidak diperbaharui kontraknya dan kemudian terbang ke Australia, untuk lantas memutuskan untuk ikut hengkang pula tidak lagi menjadi orang yang menggemari Juventus. Itu artinya, mestilah Juventus tidak pungkiri bahwa kehilangan Del Piero merupakan keguncangan yang luar biasa sesungguhnya--kerugian besar bagi Juventus telah kehilangan aku sebagai penggemar, haha.

Maksud pola pikirku adalah begini. Aku menaruh curiga. Apabila AS Roma sampai kehilangan Totti karena Totti semisal pergi ke Miami, maka orang-orang yang mencintai AS Roma karena alasan yang serupa denganku dulu ketika aku menggemari Juventus, mereka--saudara-saudaraku--itu berpotensi untuk menjadi seperti aku: balik membenci.

Aku dulu menggemari Juventus karena Del Piero. Saudara-saudaraku yang kumaksud menggemari AS Roma karena Totti. Del Piero dibuang ke Australia, dan aku jadi balik membenci Juventus. Totti masih ingin bermain--walaupun telah berusia 40 tahun--tapi AS Roma tidak memperbaharui kontrak Totti dengan membiarkan Totti pergi semisal ke Miami--patut diduga saudara-saudaraku yang kumaksud itu sebagian orang berpotensi untuk jadi balik membenci AS Roma. Begitu. Dan, kupikir, di sinilah, aku curiga, kenapa bisa sampai tercipta kesalahan komunikasi sebagaimana pandangan Paolo Maldini, karena AS Roma takut dibenci oleh sebagian penggemarnya. Ambil aman bagi AS Roma adalah ini: pengumuman musim ini adalah musim terakhir Totti di Roma, dengan begitu Totti pensiun di Roma, di wikipedia klub yang dibela Totti hanyalah Roma, dengan begitu kebesaran Roma tetap terjaga.

Marilah sekarang kukerucutkan konten ini. Di sini pun, aku mau main aman dalam beropini. Maka menurut sudut pandangku yang sempurna adalah begini: bagusnya memang bilamana Totti masih ingin bermain, maka musim ini bukanlah musim terakhir bagi Totti, melainkan Roma memberinya kontrak setahun lagi dengan pelatihnya nanti di musim depan bukanlah Luciano Spalletti.

Bukannya apa-apa, aku takutnya jikalau nanti yang terjadi adalah malah begini: eh ternyata Totti tidak jadi pensiun, melainkan masih berstatus sebagai pesepakbola, namun bermain bukan untuk Roma, misalkan untuk Miami. Maka aku khawatir terhadap saudara-saudaraku yang kumaksud, bahwa nanti mereka akan jadi sering bernyanyi Mungkinkah by Stinky.

"Mungkinkah kita kan selalu bersama walau terbentang jarak antara kita. Biarkan kupeluk erat bayangmu tuk melepaskan semua kerinduanku," Stinky.


Sumber tulisan: Football Italia
Sumber foto: The Sun

Thursday, May 18, 2017

Liverpool menginginkan Mohamed Salah Hey Mas Bro 50 Juta Euro

Liverpool menginginkan Mohamed Salah 50 Juta Euro
Aku membaca Football Italia. Dalam berita AS Roma berjudul Liverpool told Salah costs €50m. Tayang 18 Mei 2017. Ada nama Salah di situ. Ada harga 50 juta euro di situ. Aku pun memutuskan untuk mendingan menyeduh kopi terlebih dahulu. Setelah berhasil mencicipi kopi barulah aku sukses memupus galauku. Sehingga aku pun mulai bisa menyimak secara seksama berita itu.

Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam Liverpool told Salah costs €50m.

Pertama. Calciomercato.com memberitakan bahwa Liverpool mendekati AS Roma untuk mendapatkan Mohamed Salah, akan tetapi AS Roma menolak menjual bila kurang dari 50 juta euro.

Kedua. Pelatih Liverpool Jurgen Klopp telah mengarahkan pandangan kepada Mohamed Salah. Akan tetapi direktur olahraga Roma Monchi bagai menampik. "Tidak akan menjual Mohamed Salah kurang dari 50 juta euro. Dan tidak bisa dinegosiasikan turun."

Ketiga. Mohamed Salah adalah pemain berkebangsaan Mesir. Saat ini ia berumur 24 tahun. Dulu ia dipermanenkan AS Roma dari Chelsea dengan biaya total sebesar 20 juta euro. Pada musim ini bersama AS Roma, ia sudah mencatatkan 17 gol dan 15 assist dalam 39 pertandingan kompetitif.

Demikianlah.

Hey Mas Bro. Ente inginkan Salah keluarkanlah kocek 50 juta euro. Astagfirullah.

Ana sehat. Harga Ana naik 30 juta euro--dari 20 juta euro ke 50 juta euro. Subhanallah.

Aku berdoa kepada Allah semoga pelatih Liverpool Jurgen Klopp dibikin 'kesel-kesel bingits-bingits bete-bete akh' dengan jawaban dari Monchi terhadap 50 juta euro jika menginginkan Mohamed Salah tidak boleh kurang.


"Hey hey bro. Hey mas bro. Hey hey bro. Kemana aja," Zaskia Gotik.


Sumber tulisan: Football Italia, Calciomercato.com
Sumber foto: Sky Sport

Daniele Baselli Bawalah Aku Roma

Daniele Baselli Bawalah Aku Roma
Aku membaca Football Italia. Dalam berita AS Roma berjudul Baselli open to Torino exit. Tayang 17 Mei 2017. Bila boleh aku jujur, maka sejujurnya berita itu telah bikin hatiku bagai mujur. Karena tahulah aku bahwa Baselli merupakan pemain berkebangsaan Italia, dan bila Roma berhasil mendapatkan Daniele Baselli gelandang tengah Torina maka pasti akan bikin hatiku bahagia--aku merupakan pendukung timnas Italia bilamana ada Piala Eropa maupun Piala Dunia.

Baiklah. Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam Baselli open to Torino exit.

Pertama. Calciomercato.com memberitakan bahwa Daniele Baselli mengalami ragu hati tentang pembaharuan kontrak baru bersama Torino, sebab Baselli bagai meniatkan mempertimbangkan tawaran yang datang kepadanya dari Roma, Lazio, Atletico Madrid dan Villarreal.

Kedua. Daniele Baselli masih terikat kontrak bersama Torino hingga Juni 2019. Ia bergabung bersama Torino sejak tahun 2015 dari Atalanta dengan biaya transfer sebesar 6 juta euro. Ditenggarai, nilai transfernya mengalami lonjakan pada musim ini, di mana pada musim ini Baselli telah mencatatkan 5 gol dan 4 assist dalam 35 pertandingan di kancah Liga Italia Serie A.

Ketiga. Daniele Baselli adalah pemain berkebangsaan Italia. Saat ini ia berumur 25 tahun--kelahiran 12 Maret 1992. Ia merupakan gelandang tengah Torino. Yang diketahui saat ini, di bursa transfer musim panas ini, ia diincar oleh dua klub yang masih ada di tanah Italia yaitu Roma dan Lazio, serta diincar pula oleh dua klub di tanah Spanyol yaitu Atletico Madrid dan Villarreal. Dan Baselli, terlihat membuka diri untuk mempertimbangkan tawaran-tawaran yang datang kepadanya itu--Daniele Baselli tetap membuka pilihan yang datang dan memandang-mandang klub selain Torino.

Demikianlah.

Pikirku, saudaraku. Dengan Daniele Baselli membuka diri untuk memandang-mandang klub lain--termasuk memandang AS Roma. Maka demikian adalah harapan--paling tidak bagi diriku sendiri--untuk mendamba kedatangan Baselli di kota Roma menjadi Gladiator Roma.

Bila mengacu pada situasi gosip transfer yang telah beredar dalam pemberitaan akhir-akhir ini, maka kutemukan informasi terutama mengenai incaran Roma di lini tengah, setidaknya terdapatlah nama-nama berikut ini: Franck Kessie, Mario Lemina, Daniele Baselli, dan Jakub Jankto. Di antara nama-nama itu, hanyalah Daniele Baselli yang berstatus sebagai pemain berkebangsaan Italia. Sehingga, sebagai pendukung timnas Italia dan penggemar AS Roma, aku merasa Daniele Baselli mestilah diperjuangkan yang benar-benar oleh direktur olahraga Roma Monchi. Besar harapanku AS Roma berhasil membawa Daniele Baselli ke kota Roma. Semoga saja.

"Bawalah aku terbang ke sana dengan sayapmu, agar aku dapat menikmati indahnya mimpi," Erie Suzan.


Sumber tulisan: Football Italia, Calciomercato.com
Sumber foto: CalcioWeb