Tuesday, June 27, 2017

Rick Karsdorp mendarat di Roma

Rick Karsdorp mendarat di Roma
Image by AS Roma
Pemirsa--ini pura-puranya aku menjadi pembawa acara berita di televisi, dan bukan bermaksud meniru Mas Tukul, tapi tolong jangan bayangkan pula Jeremy Teti. Rick Karsdorp telah mendarat di Roma untuk tes medis dan penandatanganan kontrak lima tahun bersama AS Roma. Telah tercipta kesepakatan antara Feyenoord dan Roma untuk bek kanan Rick Karsdorp, dengan biaya transfer diperkirakan sebesar 16 juta euro ditambah bonus 3 juta euro. Demikian sekilas info. Selamat menikmati lebaran untuk anda dan keluarga.

#ForzaRoma
#ASRomaIoNonVivoSenzaTe :D


Sumber: AS Roma, Football-Italia

Membicarakan tentang Rick Karsdorp yang akan segera tiba di Roma

"Orang Belanda siapa yang akan segera tiba ke tempat kita, Vin?"

"Rick Karsdorp dari Feyenoord. Pemain masih berumur 22 tahun tapi sudah masuk timnas Netherlands sebagai bek kanan, ia juga bisa main jadi gelandang tengah. Bertato juga sama seperti kau, Dja."

"Sementara aku kuat kemungkinan akan pergi nih kayaknya," ini batin Kostas.

"Curiga aku akan jadi bek tengah lagi, sudah kukatakan kalau aku adalah bek tengah, bukan bek kanan ataupun bek kiri walaupun aku bermain sama bagusnya di setiap posisi itu," ini batin Toni.

#Hehehehe
#PerhatikanGambar
#StatusFesbuk :D

Sunday, June 25, 2017

Membayang Andre Schurrle tiba-tiba menjadi Gladiator Roma

Membayang Andre Schurrle tiba-tiba menjadi Gladiator Roma
Memang sudah biasa di hari pertama lebaran, kurasakan hari suka terasa melelahkan, paling tidak dalam tahun-tahun terakhir ini, dan termasuk tahun ini. Sudah terbiasa begadang di bulan puasa, kemudian terbawa sampai ke malam takbiran, pagi menuju siang setelah salat ied kulakukan halal bihalal dalam keadaan belum tidur semalaman, sudah azan zuhur bersiap untuk tidur namun hanya sejenak saja--sekitar sejam-an--karena ada beberapa kerabat dekat--yang tinggalnya cukup jauh tapi masih satu kabupaten--datang untuk terus membangunkan--dengan maksud dan tujuan ingin bermaaf-maafan. Itu terjadi lagi menimpaku tahun ini. Dan oleh karena itu, lumrah jika kemudian sekitar jam sepuluh malaman sudah kurasakan mengantuk, sesaat sesudah kubikin status di fesbuk, seketika kutertidur jam segituan. Lalu kuterbangun sekitar jam tiga dini hari. Bangun tidur tanpa segelas kopi, rasanya bagaimana begitu, kurang semangat padahal keadaan tubuh sudah stabil untuk terjaga, dan aku tidak ingin memutuskan untuk mendingan tidur lagi sebab aku takutnya entar kesiangan salat subuh--biasa atmosfer bulan ramadhan masih hangat bersemayam sehingga keimanan bagai masih hot.

Tiba-tiba aku tertarik untuk mendingan memikirkan klub sepakbola yang kucinta yakni AS Roma--sambil kupandang langit kamar sembari menunggu azan subuh menggelegar. Akhir-akhir ini aku lumayan mengamati pergerakan bursa transfer AS Roma bersama direktur olahraga Monchi. Direktur olahraga Monchi berhasil memberikan kejutan kepada orang-orang yang mencintai Roma atas kedatangan bek berpengalaman Hector Moreno--seperti datang secara tiba-tiba tanpa kabar berita sebelum-sebelumnya. Aku pun tertarik untuk mencoba membayang kira-kira apa lagi yang akan diberikan oleh Monchi sebagai kejutan untuk orang-orang yang mencintai Roma. Sebagaimana kutahu, di pemberitaan, banyak tercipta rumor transfer rumor transfer yang menghubungkan AS Roma dengan bebarapa pemain incarannya. Terutama selepas kepergian Mohamed Salah ke Liverpool, maka tersiar kabar-kabar terkait nama-nama kandidat pengganti Mohamed Salah. Pun tentang pemain incaran AS Roma untuk profil sebagai wakil Edin Dzeko di pos penyerang. Marilah kubangun lamunanku ini berdasarkan hal itu.

Tiba-tiba aku teringat sosok Andre Schurrle. Kutahu pertama kali tentang Andre Schurrle saat kumenontonnya dengan balutan jersey timnas Jerman, saat itu aku samar-samar masih ingat bahwa ia datang dari bangku cadangan sebagai sang pengganti namun aku lupa lagi siapakah yang ia ganti pada saat itu. Kemudian semakin tidak asing nama Andre Schurrle adalah pada saat ia pindah ke Chelsea. Kedatangannya ke Chelsea dari Bayern Leverkusen sebagai suatu sinyal bahwa Andre Schurrle merupakan pemain top--mengingat Chelsea setelah dimiliki Roman Abramovich suka mengincar pemain-pemain top. Andre Schurrle hanya bertahan dua musim di Chelsea, untuk kemudian pindah kembali ke tanah Jerman untuk memperkuat Wolfsurg, dan kembalinya Andre Schurrle ke tanah Jerman dari tanah Inggris bukan suatu pertanda bahwa ia telah mengalami kegagalan--melainkan kupikir, lebih kepada, karena di Chelsea banyak pemain top di posisi yang sama, dan itulah yang menimpa Andre Schurrle kala itu dalam arahan pelatih Jose Mourinho, yang kalau kurenungkan secara seksama, hampir sama dan ini bukan berarti aku mengatakan sama, dengan situasi Mohamed Salah yang pindah ke tanah Italia dari Chelsea untuk memperkuat Fiorentina, dan lalu Mohamed Salah semakin berkibar namanya bersama AS Roma di tanah Italia. Belakangan kemudian kutahu, kalau sejak musim kemarin--musim 2016/2017--Andre Schurrle berhasil direkrut oleh Borussia Dortmund.

Secara gambaran umumnya telah terbayang di pikiranku bahwa Andre Schurrle merupakan sosok berpengalaman untuk sektor penyerangan--dan juga sudah masuk ke dalam kategori nama besar di lini serang. Di mana posisi main Andre Schurrle adalah sebagai penyerang sayap--kanan kiri oke--dan juga sepengetahuanku bisa ditempatkan sebagai penyerang murni. Menarik jika kau tahu kenyataan bahwa bilamana Andre Schurrle ditempatkan sebagai penyerang sayap kiri--yang sepengetahuanku di sinilah murninya posisi main Schurrle--maka ia adalah pemain dengan kaki terbalik--yang mana pemain dengan tipe ini adalah cocok dengan gaya serang arahan pelatih Di Francesco. Jika mengacu kepada hal tersebut, maka itu menyinggung tempatnya Diego Perotti dan Stephan El Shaarawy di AS Roma musim kemarin.

Sehingga di kepalaku kini setidaknya terbayang tiga gambaran tentang Andre Schurrle yang dihubungkan dengan klub idolaku Roma. Yaitu. Pertama, Andre Schurrle bisa bermain di posisi Edin Dzeko. Kedua, Andre Schurrle bisa main di posisi Mohamed Salah. Ketiga, akan tetapi jika ingin merujuk kepada kecocokan yang paling cocok dengan gaya main arahan pelatih Di Francesco, posisi murninya adalah di pos yang biasa ditempati oleh Diego Perotti dan atau Stephan El Shaarawy. Namun, mengingat, dan ini untuk mempertegas, bahwa Andre Schurrle merupakan sosok yang sudah terbilang matang di pos lini serang, sebetulnya kuat kumenduga bahwa Andre Schurrle di manapun ditempatkan di lini serang, maka ia akan cocok-cocok saja--dalam arti akan mempunyai kontribusi yang berarti, apalagi secara penampakan juga kelihatannya Schurrle cocok main di AS Roma. Sehingga membayang Andre Schurrle tiba-tiba menjadi Gladiator Roma sungguhlah hal yang menyenangkan--bagiku, tentu saja.

Saturday, June 24, 2017

Xherdan Shaqiri penyerang sayap kanan dengan kaki kidal

Shaqiri pemain incaran AS Roma
Mohamed Salah telah pergi. Kini Roma dalam rangka mencari sang pengganti. Aku menanti kinerja direktur olahraga Roma Monchi untuk kasus yang satu ini.

Ada kabar memang bahwa, pemain incaran AS Roma untuk pos penyerang sayap kanan sebagai pengganti Mohamed Salah, salah satunya adalah Xherdan Shaqiri.

Xherdan Shaqiri bukanlah nama asing di kepalaku, aku sudah pernah melihat bagaimana ia memainkan sepakbola, yang masih kuingat terbayang adalah saat ada Piala Eropa, menciptakan gol yang spektakuler. Belakangan kemudian aku mencari informasi mengenai gol spektakuler Xherdan Shaqiri itu, biar yang terbayang samar-samar menjadi tergambar dengan jelas: terjadi di Euro 2016 saat Swiss melawan Polandia, Xherdan Shaqiri menciptakan Bicycle Kick Goal. Bicycle Kick Goal ini bisa masuk dalam keahlian pemain yang disebut Acrobatic Finishing.

Xherdan Shaqiri adalah pemain sayap kanan--dan atau penyerang sayap kanan. Yang tidak masalah bila ditempatkan sebagai gelandang serang tengah, dan juga menjadi second striker, bahkan bila diperlukan bisa juga ditempatkan di sektor kiri penyerangan. Secara posisi main, kupikir ia serupa dengan Mohamed Salah.

Xherdan Shaqiri mempunyai kualitas teknik yang bagus--ia kupikir sudah masuk salah satu nama besar juga untuk keahlian dalam bermain bola. Sebagai seorang penyerang sayap kanan, ia adalah salah satu penyerang sayap kanan yang agresif. Ia merupakan tipe pemain yang suka memotong dari sayap untuk masuk ke ruang kosong di antara lini pertahanan lawan, dan tentu saja manuver demikian kerap menimbulkan masalah untuk sistem pertahanan lawan, gaya main seperti ini, aku berani mengatakan bahwa Mohamed Salah pun kerap melakukannya saat bermain di Roma.

Xherdan Shaqiri adalah pemain kidal yang berposisi di sayap kanan--dan atau penyerang sayap kanan. Jika kau membaca kabar sebelumnya, bahwa tipe pemain dengan kaki terbalik adalah sesuai dengan gaya serangan di bawah arahan pelatih Di Francesco, maka profil seperti Xherdan Shaqiri adalah efektif bagi Roma. Itu artinya--mendingan aku persingkat saja bahasan ini sebab aku sudah diajak takbiran oleh tetanggaku penggemar Juventus, ini aku sedang menulis di malam takbiran--bahwa Xherdan Shaqiri, kuat kumenduga, ia akan cocok untuk menjadi pengganti Mohamed Salah di Roma. Walaupun, catatan terdahulunya yang pernah main di Inter tapi tidak menggelegar, bisa jadi itu dikarenakan ketidakcocokan gaya main dengan pelatih Inter saat itu bukan karena tidak cocok main di tanah Italia. Aku pribadi, jika misal, Roma berhasil menjadikan Xherdan Shaqiri menjadi Gladiator Roma, maka aku akan menyambut gembira dan kuperkirakan bahwa lubang yang ditinggalkan Mohamed Salah bisa tertambal--mengingat juga bahwa Shaqiri bukanlah pemain muda yang berkembang melainkan pemain yang bisa dikatakan sudah berpengalaman, pernah main di Basel, pernah main di Bayern Munich, pernah main di Inter, dan saat ini main di Stoke City, ia saat ini umurnya sudah bisa dikatakan matang tetapi belum tua yakni sudah berusia 25 tahun.

Friday, June 23, 2017

Mengikhlaskan Mohamed Salah resmi ke Liverpool

Mohamed Salah Resmi ke Liverpool
Bagaimanapun, Mohamed Salah telah resmi ke Liverpool, dengan mahar sebesar--diperkirakan--mencapai 39 juta pound--bukan dalam euro--berdasarkan dari berita-berita yang kubaca dari tanah Inggris. Dan tahukah kau saudaraku, bahwa biaya transfer Mohamed Salah dari Roma ke Liverpool sesungguhnya telah memberikan keberkahan--khususnya--bagi Roma.

Aku membaca Football Italia. Dalam berita berjudul Salah transfer breaks records. Tayang 22 Juni 2017. Silahkan jika kau mau anggap di sini ibaratnya aku sebagai penyiar berita di televisi tapi tolong jangan kau bayangkan Jeremy Teti. Pemirsa. Mohamed Salah penyerang sayap kanan Roma telah resmi berlabuh ke Liverpool, dana transfer yang mencapai 50 juta euro telah membuat rekor baru bagi Roma dan Liverpool, terutama bagi Roma dalam proses transfer itu telah meraup keuntungan sebesar 29, 3 juta euro.

Rinciannya begini. Biaya awal sebesar 42 juta euro ditambah bonus sebesar 8 juta euro, sehingga totalnya biaya transfer mencapai 50 juta euro.

Biaya transfer itu membuat Mohamed Salah menjadi penjualan yang paling besar yang telah dilakukan oleh Roma, mengalahkan rekor penjualan terbesar sebelumnya yaitu saat menjual Erik Lamela ke Tottenham Hotspur yang mendapatkan mahar sebesar 35 juta euro, yang terjadi pada Agustus 2013.

Berdasarkan laporan Calcio E Finanza. Penjualan Mohamed Salah ke Liverpool, telah membuat Roma meraup keuntungan sebesar 29, 3 juta euro. Dulu Mohamed Salah dibeli Roma dari Chelsea dengan rincian begini: 5 juta euro untuk pinjaman pada musim panas 2015, kemudian mempermanenkan Salah dengan membayar 15 juta euro pada tahun 2016, jadi dulu totalnya Roma membeli Salah dari Chelsea mencapai 20 juta euro.

Selain daripada itu, selain menghadirkan keuntungan yang besar bagi Roma secara materi, pun membantu Roma dalam menyeimbangkan financial fair play yang bertenggat waktu 30 Juni 2017.

Selain daripada itu, penjualan Salah pun merupakan penjualan yang paling menguntungkan yang telah dilakukan Roma, setelah penjualan Miralem Pjanic ke Juventus sebesar sekitar 28 juta euro dan Marquinhos ke Paris Saint-Germain sebesar sekitar 27 juta euro. Maksud keuntungan di sini adalah keuntungan secara pundi-pundi uang--bukan pundi-pundi prestasi, sekedar mengingatkan saja. Sementara bagi Liverpool, penandatanganan Mohamed Salah adalah yang terbesar, setelah sebelumnya ada nama Andy Carroll seharga 35 juta pound--bukan dalam euro.

Demikianlah sekilas info.

Memang. Akan tercipta kecemasan dengan kepergian Mohamed Salah ke Liverpool--selain tadi mendatangkan kebahagiaan berupa pundi-pundi uang. Bagi orang-orang yang mencintai Roma, tentu saja.

Kita sudah sama-sama tahu bagaimana kontribusi Mohamed Salah bagi Roma, paling tidak catatan musim kemarin, menurut catatan yang kutemukan: Mohamed Salah telah mencatatkan 19 gol dan 15 assist untuk Roma musim 2016/2017.

Ini akan menjadi kerugian secara taktikal, aku menduga benarlah itu. Ini akan meninggalkan lubang yang dalam khususnya bagi serangan Roma, sungguh aku setuju dengan pemikiran itu. Ini akan menyebabkan Roma makin susah untuk meraih gelar scudetto di musim yang akan dijelang, nah untuk pemikiran yang satu ini, tunggu dulu, tidak sesederhana itu, sebab sebagaimana apa yang telah diucapkan oleh direktur olahraga Monchi, bahwa jika ada pemain kunci yang pergi maka yang mengganti profilnya haruslah punya kompetensi--di sini bertujuan untuk menjadi penambal lubang yang telah ditinggalkan oleh Mohamed Salah.

Sebagai salah satu penggemar AS Roma, tidak kupungkiri bahwa kepergian Mohamed Salah telah menciptakan kegalauan juga di hatiku. Namun aku masih tetap percaya kepada Roma, dalam hal ini kepada direktur olahraga Monchi dan pelatih Di Francesco, bahwa kepergian Salah ke Liverpool bukan berarti Roma tidak akan berjaya di musim yang akan dijelang. Kita lihat saja apa yang terjadi di masa depan. Kita berdoa saja yang terbaik. Baik yang terbaik bagi Roma, maupun terbaik bagi Salah di Liverpool, dengan itu aku sudah mengikhlaskan Mohamed Salah untuk tidak menjadi Gladiator Roma lagi.

Ya Salah... Allah, Allah, Allah--Ini akan menjelma menjadi sebuah kerinduan.


Source: Football-Italia
Image: Liverpool Echo

Thursday, June 22, 2017

Bilal Basacikoglu penyerang sayap yang cepat

Bilal Basacikoglu penyerang sayap yang cepat
Aku tidak tahu apakah Bilal Basacikoglu termasuk pemain incaran AS Roma apakah bukan, namun aku tidak mendengar--dan atau membaca--bahwa Bilal Basacikoglu merupakan pemain incaran AS Roma--ketika aku menuliskan konten ini. Memang tulisan ini dibangun bukan atas dasar itu, melainkan dibentuk berdasarkan semacam pengamatan saja--ibaratnya posisiku sebagai seorang scout.

Dan pengamatanku dibangun berdasarkan situasi di Roma saat ini: kepergian Mohamed Salah penyerang sayap Roma--yang punya kecepatan begitu dahsyatnya--ke Liverpool, menuju segera resmi.

Tidak sengaja memang, tiba-tiba aku ingin menuliskan tentang Bilal Basacikoglu--pemain berkebangsaan Turki yang saat ini bermain di tanah Belanda bersama klub Feyenoord, saat ini Basacikoglu berumur 22 tahun kelahiran 26 Maret 1995. Ketika aku sedang mencari data mengenai pemain incaran AS Roma lainnya--untuk pos bek kanan--Rick Karsdorp. Kutemukan nama Bilal Basacikoglu sebagai seorang penyerang sayap kanan milik Feyenoord, dan kemudian kutertarik untuk mengamatinya.

Bilal Basacikoglu penyerang sayap yang cepat, inilah yang kemudian terucap olehku ketika membaca seorang Bilal Basacikoglu dari sumber di internet, bisa dikatakan licin juga seperti belut. Bila tim ingin memainkan sepakbola mengumpan lambung maupun datar dari sayap, maka profil pemain yang bisa mewujudkan demikian salah satunya ada dalam diri seorang winger Basacikoglu ini, ia memiliki keahlian Early Cross, ia punya keahlian dalam hal crossing--mempunyai visi bagus dalam memberikan umpan, bila ditinjau dari posisinya sebagai seorang winger, maka bisa dibilang bagus dalam melesakkan umpan silang.

Sebagai seorang penyerang sayap kanan, kupikir Bilal Basacikoglu berbeda gaya mainnya dengan Mohamed Salah. Gaya main Mohamed Salah, menurut pengamatanku, secara garis besarnya adalah ini: seorang penyerang sayap yang gesit namun berkarakter seperti false nine. Jelas tipe pemain sayap seperti Mohamed Salah adalah sesuai dengan gaya main Jurgen Klopp di Liverpool--gambarannya ada pada seorang Roberto Firmino di Liverpool. Namun, gaya main winger seperti Bilal Basacikoglu, menurut pandanganku, cocoknya bermain di kebanyakan klub di tanah Inggris--misal di West Ham mengingat keberadaan striker jangkung Andy Carroll.

Mengingat di AS Roma pun ada penyerang jangkung--dan malah lebih berbahaya daripada Andy Carroll--dalam diri Edin Dzeko, sesungguhnya bisa memiliki seorang winger berkarakter Bilal Basacikoglu adalah hal yang bagus. Akan tetapi, jika kemudian dibenturkan kepada gaya main pelatih Di Francesco, dalam skema 4-3-3, penyerang sayap seperti Bilal Basacikoglu bukanlah hal yang efektif, sebab Basacikoglu bukanlah penyerang sayap berkaki terbalik, konon kabarnya tipe penyerang sayap berkaki terbalik cocok dengan gaya serangan arahan pelatih Di Francesco.

Dan untuk penutup tulisan ini, marilah kusinggung hal yang barangkali tidak penting dalam sepakbola secara praktek, yaitu menyangkut nama--tapi ini tidak ada hubungannya dengan nama besar, dan atau ungkapan ini: manusia mati meninggalkan nama. Melainkan lebih cenderung kepada apa kata Shakespeare, apalah arti sebuah nama. Mohamed Salah dan Bilal Basacikoglu, jika kau simak seksama nama depan keduanya, maka terdapat kesamaan (selain sama-sama berkarakter penyerang sayap cepat), yaitu sama-sama akrab di kalangan orang-orang islam. Coba kau bayangkan komentator streaming yang berbahasa Arab, pasti akan lekoh menyebutkan namanya.

Wednesday, June 21, 2017

Bukan ramalan kejayaan Roma

Monchi dan Di Francesco
Aku membaca tanda-tanda kejayaan Roma, ini bukan ramalan, aku bukan peramal. Ini dibangun berdasarkan data-data. Pelatih Di Francesco, kalau anda mengamati sepakbola Italia, setidaknya lima tahun ke belakang, maka anda akan menemukan sesuatu pada gaya main arahannya, memperagakan sepakbola 4-3-3 yang menarik. Sementara direktur olahraga Monchi, jika anda mengamatinya seksama, maka ialah aktor dibalik kejayaan Sevilla di Spanyol sepanjang sepuluh tahun terakhir. Apalagi Di Francesco mempunyai kecintaan yang dalam kepada Roma. Apalagi Monchi bekerja untuk Roma sekarang--yang notabene lebih bagus. Masih terlalu dini memang, tapi meraba-raba boleh dong.

#NungguAzanSubuhTakutKetiduran
#NahUdahAzan :D

Tayang pertama kali di fesbuk kemarin subuh. Tertarik diketik ulang karena nemu foto bagus itu loh.

Muriel atau Defrel sebenarnya

Luis Muriel Sampdoria
Muriel atau Defrel sebenarnya, ini adalah suara hatiku, ketika sedang membahas mengenai pemain incaran AS Roma untuk pos penyerang sebagai pelapis Edin Dzeko--menulis tentang Mariano Diaz. Iya, aku merasakannya demikian. Benar, aku sedang menyinggung Luis Muriel penyerang Sampdoria dan Gregoire Defrel penyerang Sassuolo.

Ada beberapa alasan yang menjadi pemikiran untuk menjadikan suara hatiku itu muncul secara spontanitas. Namun, sebelumnya aku ingin menyinggung terlebih dahulu, situasi yang sedang dihadapi oleh Roma dalam sistem penyerangan. Edin Dzeko, setelah kehilangan seorang maestro legendaris di lini depan yakni il capitano Francesco Totti, praktis tidak punya pesaing di pos penyerang. Kemudian, situasi yang baru-baru ini, adalah tinggal menunggu kehilangan penyerang sayap kanan yang amat berpengaruh di sektor penyerangan Roma musim kemarin yakni Mohamed Salah. Atas dasar kerangka pikir itu, kucoba untuk membangun alasan-alasan memilih Muriel atau Defrel ini.

Pertama. Baik Muriel maupun Defrel, sudah sama-sama teruji di tanah Italia, khususnya dalam kancah Liga Italia Serie A, sebagai seorang penyerang--yang bisa dibilang--mempesona. Dalam hal ini mengandung arti bahwa di tanah Italia, Muriel dan Defrel merupakan penyerang yang berpengalaman--memang secara umur juga keduanya sudah matang, keduanya saat ini sama-sama sudah berumur 26 tahun. Tentu saja, bila mengacu kepada pokok permasalahan, maka profil penyerang seperti Muriel dan Defrel adalah solusi yang amat masuk akal--bahkan nyaris tidak mengandung unsur perjudian.

Kedua. Sebagaimana dulu aku pernah mengulas tentang Defrel yang selain bisa menjadi penyerang murni, ia pun bisa dijadikan sebagai penyerang sayap. Ibaratnya sekali dayung dua pulau terlewati. Dan hal itu, bisa dibenturkan juga kepada sosok Luis Muriel, Muriel pun selain bisa jadi penyerang murni, ia pun bisa dijadikan sebagai penyerang sayap. Dan bagusnya, keduanya pun mempunyai kecepatan, sebagaimana Mohamed Salah.

Memang telah kudengar kabar bahwa Muriel dan Defrel pun adalah pemain incaran AS Roma untuk pos penyerang murni sebagai pelapis Edin Dzeko. Berarti, memang menarik, untuk disimak apa yang akan terjadi mengenai target transfer Roma untuk status sebagai wakil Edin Dzeko, sampai jendela transfer musim panas ini ditutup yang masihlah lama.

Mariano Diaz pemain incaran AS Roma Las Palabras De Amor

Mariano Diaz Pemain Incaran AS Roma
Kali ini aku ingin berbicara mengenai pemain incaran AS Roma lagi, salah satunya sebagai kandidat pelapis Edin Dzeko di pos penyerang murni. Sebelumnya aku ingin bercerita terlebih dahulu mengenai situasiku saat ini--saat sedang menuliskan konten ini. Situasi ini barusan kukabarkan di akun fesbukku: sesudah berbuka kemudian ngopi dulu bentar sembari mendengar las palabras de amor--queen. aku merasa bagai hector moreno habis cetak gol ke gawang portugal di rusia.

Dengan perasaan seperti itu. Seperti apakah itu? Kalau dalam bahasa Spanyol Las Palabras De Amor, dalam bahasa Inggris The Word of Love, kira-kira dalam bahasa Indonesia begini: Kata-kata cinta. Ibaratnya sedang feeling happy saja karena telah tiba waktu berbuka, sehingga aku diperbolehkan untuk minum kopi. Tidak hanya sekedar update status, melainkan aku pun membaca berita AS Roma, kebetulan saat itu aku membaca Tifosi As Roma Indonesia: Monchi akan mencoba membawa Mariano Diaz dari Real Madrid sebagai wakil Dzeko. Permintaan dari Real Madrid adalah sekitar 15 juta euro. Namun, Real Madrid juga bisa menjualnya pada angka 10 juta euro. Untuk pemain Dominika, akan tiba tawaran juga dari klub di Ligue 1 dan Liga Premier--yang mengambil sumber dari Marca.

Belakangan aku tahu mengenai gambaran bagaimana seorang Mariano Diaz sebagai seorang penyerang. Ia merupakan tipe penyerang goal poacher, yang ditunjang dengan memiliki tendangan yang kekar. Mengenai tipe penyerang goal poacher, contohnya adalah dulu Real Madrid punya Raul Gonzalez. Tidak hanya subur mencetak gol, namun juga pandai dalam memberikan umpan. Penyerang seperti ini, senantiasa berada--atau berkeliaran--di sekitar area kotak penalti untuk membuka ruang bagi dirinya--di mana nantinya untuk menciptakan situasi mencetak gol. Penyerang seperti ini, mempunyai finishing yang bagus, bahkan bisa sampai menciptakan gol secara akrobatik--Acrobatic Finishing--baik disundul maupun melalui tendangan.

Dalam perhitungan manajemen Roma, bisa dibaca bahwa pemain incaran AS Roma bernama Mariano Diaz, dipersiapkan untuk pelapis Edin Dzeko. Kupikir terdapat perbedaan karakter tipe permainan. Kalau Edin Dzeko adalah tipe penyerang Fox in the Box--hampir serupa memang dengan goal poacher, penyerang yang haus gol yang berkeliaran di sekitar kotak penalti lawan, namun lebih cenderung ke target man. Nah, ini menjadi menarik, dua karakter berbeda, bisa memperkaya suasana penyerang murni di Roma--tentu saja jika Mariano Diaz berhasil didapatkan Roma.

Mariano Diaz saat ini umurnya masih 23 tahun--kelahiran 1 Agustus 1993. Ia merupakan anak didik Real Madrid. Dipromosikan oleh pelatih Zinedine Zidane ke skuad utama Real Madrid pada 20 Agustus 2016, dan membuat debut bersama Real Madrid senior pada 26 Oktober 2016. Mariano Diaz membuat delapan penampilan saat Real Madrid memenangkan La Liga 2016/2017, dan ia adalah cadangan saat Real Madrid menjuarai Liga Champions 2016/2017. Dulu, bersama Real Madrid B, dari sekitaran tahun 2014 sampai tahun 2016, ia telah mencetak 32 gol dalam 44 penampilan. Mengenai gol, Mariano Diaz juga sudah mencetak gol perdananya bersama Real Madrid senior di Copa del Rey, dan juga sudah mencetak gol di kompetisi ketat bersama Real Madrid senior pada tanggal 10 Desember 2016 waktu melawan Deportivo La Coruna. Kupikir profil penyerang seperti Mariano Diaz akan menjadi pas untuk dijadikan sebagai pelapis Edin Dzeko--Edin Dzeko saat ini sudah berumur 31 tahun--di Roma. Tiada kata selain ini, Mariano Diaz pemain incaran AS Roma Las Palabras De Amor, kupikir tidak berlebihan.

Tuesday, June 20, 2017

Roma sangat dekat dengan Rick Karsdorp menarik

Roma sangat dekat dengan Rick Karsdorp
Bukan. Aku bukan berbicara mengenai bentuk rupanya secara fisik. Aku bukan berbicara mengenai rambutnya yang pirang. Aku bukan berbicara mengenai tato ditubuhnya. Aku bukan berbicara mengenai badannya yang atletis. Melainkan aku berbicara mengenai bagaimana ia memainkan sepakbola ditinjau dari pos di mana ia ditempatkan. Benar, aku sedang berbicara mengenai Rick Karsdorp yang murninya memang sebagai bek kanan namun bisa ditempat juga sebagai pemain sayap kanan dan gelandang tengah--lebih cenderung ke gelandang serang. Menarik, adalah kata yang kemudian terucap ketika kutahu mengenai data itu.

Di sini aku masih berkutat dalam ingar bingar geliat bursa transfer, terutama menyangkut pemain incaran AS Roma di bursa transfer. Aku membaca Football Italia dalam berita berjudul Karsdorp, Pellegrini set for Roma--tayang 20 Juni 2017. Kutemukan salah satu pengetahuan dari sana, yaitu mengenai Rick Karsdorp, yang mengambil sumber dari Gazzetta dello Sport, bahwa begini: Telah terjadi kesepakatan antara Roma dengan bek kanan Feyenoord Rick Karsdorp secara personal, akan tetapi belum deal dengan Feyenoord meyangkut harga transfer di mana Roma menawar dengan harga 13 juta euro dan itu bertentangan dengan harga yang diinginkan oleh Feyenoord sebesar 20 juta euro. Namun begitu, Roma merasa yakin bisa mendapatkan Rick Karsdorp sebab Giallorossi telah mencapai kesepakatan secara personal dengan Rick Karsdorp. Demikian salah satu materi yang terdapat dalam berita itu. Dan berita itu--walaupun tidak ada yang resmi yang tersurat--namun setidaknya memberikan gambaran kepadaku begini: Roma sangat dekat dengan Rick Karsdorp.

Ini akan menjadi kabar bahagia bagiku, benar aku tidak bohong, walaupun untuk pos bek kanan aku mengharapkan Matteo Darmian--tetapi bukan berarti secara definitif aku tidak mengangankan Rick Karsdorp menjadi Gladiator Roma. Secara definitif, tentu saja aku ingin pemain yang terbaik yang menjadi Gladiator Roma, sebab aku mendamba Roma menjadi sang juara di tanah Italia. Dan untuk pemain incaran AS Roma pada pos bek kanan, baik Darmian maupun Karsdorp sama baiknya--menurut sudut pandangku. Begitu.